MAKALAH ADAPTIF

November 6, 2009 pukul 6:16 am | Ditulis dalam Kuliah | Tinggalkan komentar
Tag:

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pendidikan Jasmani Adaptif

  1. a. Pengertian Pendidikan Jasmani Adaptif

Secara mendasar pendidikan jasmani adaptif adalah sama dengan pendidikan jasmani biasa. Pendidikan jasmani merupakan salah satu aspek dari seluruh proses pendidikan secara keseluruhan. Pendidikan jasmani adaptif merupakan suatu sistem penyampaian layanan yang bersifat menyeluruh (comprehensif) dan dirancang untuk mengetahui, menemukan dan memecahkan masalah dalam ranah psikomotor. Hampir semua jenis ketunaan Anak Luar Biasa memiliki masalah dalam ranah psikomotor. Masalah psikomotor sebagai akibat dari keterbatasan kemampuan sensomotorik, keterbatasan dalam kemampuan belajar. Sebagian Anak Luar Biasa bermasalah dalam interaksi sosial dan tingkah laku. Dengan demikian dapat dipastikan bahwa peranan pendidikan jasmani bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) sangat besar dan akan mampu mengembangkan mengkoreksi kelainan dan keterbatasan tersebut.

 

  1. b. Ciri dari Program Pengajaran Penjas Adaptif

Sifat program pengajaran pendidikan jasmani adaptif memiliki ciri khusus yang menyebabkan nama pendidikan jasmani ditambah dengan kata adaptif. Adapun ciri tersebut adalah:

  • Program Pengajaran Penjas adaptif disesuaikan dengan jenis dan karakteristik kelainan siswa. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan kesempatan kepada siswa yang berkelainan berpartisipasi dengan aman, sukses, dan memperoleh kepuasan. Misalnya bagi siswa yang memakai kursi roda satu tim dengan yang normal dalam bermain basket, ia akan dapat berpartisipasi dengan sukses dalam kegiata tersebut bila aturan yang dikenakan kepada siswa yang berkursi roda dimodifikasi. Demikian dengan olahraga lainnya. Oleh karena itu pendidikan jasmani adaptif akan dapat membantu dan menolong siswa memahami keterbatasan kemampuan jasmani dan mentalnya.
  • Program Pengajaran Penjas adaptif harus dapat membantu dan mengkoreksi kelainan yang disandang oleh siswa. Kelainan pada Anak Luar Biasa bisa terjadi pada kelainan fungsi postur, sikap tubuh dan pada mekanika tubuh. Untuk itu, program pengajaran pendidikan jasmani adaptif harus dapat membantu siswa melindungi diri sendiri dari kondisi yang memperburuk keadaannya.
  • Program Pengajaran Penjas adaptif harus dapat mengembangkan dan meningkatkan kemampuan jasmani individu ABK. Untuk itu pendidikan jasmani adaptif mengacu pada suatu program kesegaran jasmani yang progresif, selalu berkembang dan atau latihan otot-otot besar. Dengan demikian tingkat perkembangan ABK akan dapat mendekati tingkat kemampuan teman sebayanya. Apabila program pendidikan jasmani adaptif dapat mewujudkan hal tersebut diatas, maka pendidikan jasmani adaptif dapat membantu siswa melakukan penyesuaian sosial dan mengembangkan perasaan siswa memiliki harga diri. Perasaan ini akan dapat membawa siswa berperilaku dan bersikap sebagai subyek bukan sebagai obyek dilingkungannya.

 

  1. c. Tujuan Pendidikan Jasmani Adaptif

Sebagaimana dijelaskan diatas betapa besar dan strategisnya peran pendidikan jasmani adaptifdalam mewujudkan tujuan pendidikan bagi ABK, maka Prof. Arma Abdoellah, M.Sc. dalam buku yang berjudul “Pendidikan Jasmani Adaptif” memerinci tujuan pendididkan jasmani adaptif bagi ABK sebagai berikut:

  1. Untuk menolong siswa mengkoreksi kondisi yang dapat diperbaiki.
  2. Untuk membantu siswa melindungi diri sendiri dari kondisi apapun yang memperburuk keadaannya melalui Penjas tertentu.
  3. Untuk memberikan kesempatan pada siswa mempelajari dan berpartisipasi dalam sejumlah macam olahraga dan aktivitas jasmani, waktu luang yang bersifat rekreasi.
  4. Untuk menolong siswa memahami keterbatasan kemampuan jasmani dan mentalnya.
  5. Untuk membantu siswa melakukan penyesuaian sosial dan mengembangkan perasaan memiliki harga diri.
  6. Untuk membantu siswa dalam mengembangkan pengetahuan dan apresiasi terhadap mekanika tubuh yang baik.
  7. Untuk menolong siswa memahami dan menghargai macam olahraga yang dapat diminatinya sebagai penonton.

 

  1. d. Modifikasi dalam Pendidikan Jasmani Adaptif

Bila dilihat masalah dari kelainannya, jenis ABK dikelompokkan menjadi:

  • ABK yang memilik masalah dalam sensoris
  • ABK yang memiki masalah dalam gerak dan motoriknya
  • ABK yang memiliki masalah dalam belajar
  • ABK yang memiliki masalah dalam tingkah laku

Dari masalah yang disandang dan karakteristik setiap jenis ABK maka  menuntut adanya penyesuaian dan modifikasi dalam pengajaran Pendidikan Jasmani bagi ABK. Penyesuaian dan modifikasi dari pengajaran penjas bagi ABK dapat terjadi pada:

  1. Modifikasi aturan main dari aktivitas pendidikan jasmani.
  2. Modifikasi keterampilan dan tekniknya.
  3. Modifikasi teknik mengajarnya.
  4. Modifikasi lingkungannya termasuk ruang, fasilitas dan peralatannya.

Seorang ABK yang satu dengan yang lain, kebutuhan aspek yang dimodifikasi tidak sama. ABK yang satu mungkin membutuhkan modifikasi tempat dan arena bermainnya. ABK yang lain mungkin membutuhkan modifikasi alat yang dipakai dalam kegiatan teraebut. Tetapi mungkin yang lain lagi disamping membutuhkan modifikasi area bermainnya juga butuh modifikasi alat dan aturan mainnya. Demikian pula seterusnya, tergantung dari jenis masalah, tingkat kemampuan dan karakteristik dan kebutuhan pengajaran dari setiap jenis ABK.

 

2.2 Pengertian dan Kerakteristik Tunagrahita

2.2.1 Pengertian

Tunagrahita merupakan kata lain dari Retardasi Mental (mental retardation). Tuna berarti merugi.Grahita berarti pikiran. Retardasi Mental (Mental Retardation/Mentally Retarded) berarti terbelakang mental. Tunagrahita sering disepadankan dengan istilah-istilah, sebagai berikut:

1. Lemah fikiran ( feeble-minded)

2. Terbelakang mental (Mentally Retarded);

3. Bodoh atau dungu (Idiot);

4. Pandir (Imbecile);

5. Tolol (moron);

6. Oligofrenia (Oligophrenia);

7. Mampu Didik (Educable);

8. Mampu Latih (Trainable);

9. Ketergantungan penuh (Totally Dependent) atau Butuh Rawat;

10. Mental Subnormal;

11. Defisit Mental

12. Defisit Kognitif;

13. Cacat Mental;

14. Defisiensi Mental;

15. Gangguan Intelektual

American Asociation on Mental Deficiency/AAMD dalam B3PTKSM, (p. 20), mendefinisian Tunagrahita sebagai kelainan yang meliputi fungsi intelektual umum di bawah rata-rata (Sub-average), yaitu IQ 84 ke bawah berdasarkan tes; yang muncul sebelum usia 16 tahun; yang menunjukkan hambatan dalam perilaku adaptif. Sedangkan pengertian Tunagrahita menurut Japan League for Mentally Retarded (1992: p.22) dalam B3PTKSM (p. 20-22) sebagai berikut: Fungsi intelektualnya lamban, yaitu IQ 70 kebawah berdasarkan tes inteligensi baku.Kekurangan dalam perilaku adaptif. Terjadi pada masa perkembangan, yaitu anatara masa konsepsi hingga usia 18 tahun. Pengklasifikasian/penggolongan Anak Tunagrahita untuk keperluan pembelajaran menurut American Association on Mental Retardation dalam Special Education in Ontario Schools (p. 100) sebagai berikut: 1. EDUCABLE Anak pada kelompok ini masih mempunyai kemampuan dalam akademik setara dengan anak reguler pada kelas 5 Sekolah dasar.

Ada beberapa pengertian tunagrahita menurut beberapa ahli.

v  Tunagrahita ialah istilah yang digunakan untuk menyebut anak yang mempunyai kemampuan intelektual di bawah rata-rata (Somantri,2006:103). Istilah lain untuk siswa (anak) tunagrahita dengan sebutan anak dengan hendaya perkembangan. Diambil dari kata Children with developmental impairment. Kata impairment diartika sebagai hendaya atau penurunan kemampuan atau berkurangnya kemampauan dalam segi kekuatan, nilai, kualitas, dan kuantitas (American Heritage Dictionary,1982: 644; Maslim.R.,2000:119 dalam Delphie:2006:113).

v  Penyandang tunagrahita (cacat ganda) adalah seorang yang mempunyai kelainan mental, atau tingkah laku akibat kecerdasan yang terganggu, adakalanya cacat mental dibarengi dengan cacat fisik sehingga disebut cacat ganda (http//.panti.tripod.com/2-10-07). Misalnya, cacat intelegensi yang mereka alami disertai dengan keterbelakangan penglihatan (cacat pada mata), ada juga yang disertai dengan gangguan pendengaran. Adanya cacat lain yang dimiliki selain cacat intelegensi inilah yang menciptakan istilah lain untuk anak tunagrahita yakni cacat ganda.

Penanganan pada setiap ABK memiliki cara tersendiri.Mulai dari segi akademik, pribadi dan sosial mereka. Semuanya disesuaikan dengan kondisi fisik dan mental mereka.

2.2.1 Karateristik Tunagrahita

  1. Tunagrahita Ringan

Anak yang tergolong dalam tunagrahita ringan memiliki banyak kelebihan dan kemampuan. Mereka mampu dididikdan dilatih. Misalnya, membaca, menulis, berhitung, menjahit, memasak, bahkan berjualan. Tunagrahita ringan lebih mudah diajak berkomunikasi. Selain itu kondisi fisik mereka tidak begitu mencolok. Mereka mampu berlindung dari bahaya apapun. Karena itu anak tunagrahita ringan tidak memerlukan pengawasan ekstra.

  1. Tunagrahita Sedang

Tidak jauh berbeda dengan anak tunagrahita ringan. Anak tunagrahita sedang pun mampu diajak berkomunikasi. Namun, kelemahannya mereka tidak begitu mahir dalam menulis, membaca, dan berhitung. Tetapi, ketika ditanya siapa nama dan alamat rumahnya akan dengan jelas dijawab. Mereka dapat bekerja di lapangan namun dengan sedikit pengawasan. Begitu pula dengan perlindungan diri dari bahaya. Sedikit perhatian dan pengawasan dibutuhkan untuk perkembangan mental dan sosial anak tunagrahita sedang.

  1. Tunagrahita Berat

Anak tunagrahita berat disebut juga idiot. karena dalam kegiatan sehari-hari mereka membutuhkan pengawasan, perhatian, bahkan pelayanan yang maksimal. Mereka tidak dapat mengurus dirinya sendiri apalagi berlindung dair bahaya. Asumsi anak tunagrahita sama dengan anak Idiot tepat digunakan jika anak tunagrahita yang dimaksud tergolong dalam tungrahita berat.

Dengan demikian, seorang dikatakan tunagrahita apabila memiliki tiga faktor, yaitu:

  1. Keterhambatan fungsi kecerdasan secara umum atau di bawah rata-rata
  2. Ketidakmampuan dalam perilaku adaptif
  3. Terjadi selama perkembangan sampai usia 18 tahun.

Keterbelakangan mental yang biasa dikenal dengan anak tunagrahita biasanya dihubungkan dengan tingkat kecerdasan seseorang. Tingkat kecerdasan secara umum biasanya diukur melalui tes Inteligensi yang hasilnya disebut dengan IQ (intelligence quotient).

  1. Tuna grahita ringan biasanya memiliki IQ 70 –55
  2. Tunagrahita sedang biasanya memiliki IQ 55 – 40
  3. Tunagrahita berat biasanya memiliki IQ 40 – 25
  4. Tunagrahita berat sekali biasanya memiliki IQ <25

 

 

Para ahli Indonesia menggunakan klasifikasi:

  1. Tunagrahita ringan IQnya 50 – 70
  2. Tunagrahita Sedang IQnya 30 – 50q
  3. Tunagrahita berat dan sangat berat IQnya kurang dari 30

 

2.3 Pembelajaran Pendidikan Jasmani Tuna Grahita di Bhakti Luhur Khususnya Kelas 6 SD

Rencana pembelajaran Pendidikan Jasmani yang bisa dilaksanakan yaitu:

STANDAR KOMPETENSI KOMPETENSI DASAR
Melakukan berbagai gerak dasar permainan dan olahraga dengan peraturan yang dimodifikasi. Dan nilai-nilai yang tergantung didalamnya.
  • Melakukan gerak dasar salah satu permainan bola kecil dengan koordinasi dan kontrol yang baik dengan peraturan yang dimodifikasi, serta nilai kerjasama, sportifitas, dan kejujuran.
  • Melakukan gerakan dasar salah satu permainan bola besar dengan koordinasi dan kontrol yang baik dengan peraturan yang dimodifikasi serta nilai kerjasama, sportifitas, dan kejujuran.
  • Melakukan koordinasi gerak dasar dalam teknik lari, lempar, dan lompat dengan peraturan yang dimodifikasi serta nilai semangat, sportifitas, percaya diri, dan kejujuran.
Melakukan kombinasi senam lantai dan senam ketangkasan dalam bentuk sederhana dan nilai-nilai yang terkandung didalamnya.
  • Melakukan pemanasan dan pendinginan sebelum dan sesudah melaksanakan aktivitas senam.

Pada waktu kegiatan olahraga guru tidak bisa memaksakan mereka untuk mengikuti olahraga yang dilaksanakan, karena kemampuan mereka berbeda. Yang merasa dirinya bisa dia akan bosan dan pergi mengikuti kegiatan lain yang dia suka. Sebaliknya  yang tidak mampu mengikutinya dia akan diam. Namun pada intinya olahraga yang dilakukan untuk kesenangan mereka . Dan olahraga yang sering  dilakukan dikelas tersebut adalah jalan-jalan.

 

 

Foto waktu senam

2.4 Fasilitas  yang Digunakan dalam Kegiatan Belajar Mengajar Baik Didalam Maupun Diluar Kelas

Faslitas yang di gunakan dalam kegiatan belajar mengajar di kelas cukup memadai. Seperti papan tulis, kapur tulis, meja, kursi, alat hitung (simpoa), buku-buku bergambar, puzzle bangunan,

 

Foto di ruang kelas

Fasilitas yang digunakan dalam olahraga juga memadai,contohnya bola lempar yang berukuran kecil dari plastik, bola volley , bola sepak,

Foto bola dan olah raga dengan alat

Data Murid Kelas 6 SD Tunagrahita Taman Bimbingan Bhakti Luhur (2008-2009)

No. NAMA USIA JENIS KELAMIN
1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

Agus Faisal

Brian Samudra

Frillyan Feri Antok

Yohan Holiangu

Maria Nini

Bayu Adi Saputra

Dewi Agustina

Desi Puspitasari

Sugeng Yusuf

Felicia Wirawan

13 tahun

13 tahun

16 tahun

17 tahun

14 tahun

16 tahun

17 tahun

17 tahun

15 tahun

19 tahun

Laki-laki

Laki-laki

Laki-laki

Laki-laki

Perempuan

Laki-laki

Perempuan

Perempuan

Laki-laki

Perempuan

2.5 Siswa berprestasi di ABEKA Bhakti Luhur

Sudah di jelaskan dari awal bahwa antara satu anak dengan anak lainnya mempunyai kelamahan dan kelebihan yang berbeda-beda. Contohnya saja salah satu siswa dari kelas 6 ini yang bernama Antok, dia mewakili sekolahnya mengikuti perkemahan pramuka se-Jawa Timur. Selain itu juga ada Dewi, dia mempunyai prestasi yaitu penari tingkat regional. Namun juga tidak sedikit yang memiliki kelemahan, seperti sulit berkomunikasi, susah konsentresi, sulit menerima rangsang, dan sebagainya. Oleh karena itu pelaksanaan pembelajaran pendidikan jasmani  tidak sesuai dengan apa yang telah tercantum. Ada beberapa hal yang bisa diambil dan sesuai dengan mereka.

 

Foto siswa berprestasi

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Pendidikan jasmani adaptif merupakan suatu sistem penyampaian layanan yang bersifat menyeluruh (comprehensif) dan dirancang untuk mengetahui, menemukan dan memecahkan masalah dalam ranah psikomotor. Hampir semua jenis ketunaan Anak Luar Biasa memiliki masalah dalam ranah psikomotor. Masalah psikomotor sebagai akibat dari keterbatasan kemampuan sensomotorik, keterbatasan dalam kemampuan belajar. Sebagian Anak Luar Biasa bermasalah dalam interaksi sosial dan tingkah laku. Dengan demikian dapat dipastikan bahwa peranan pendidikan jasmani bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) sangat besar dan akan mampu mengembangkan mengkoreksi kelainan dan keterbatasan tersebut.

Ciri dari Program Pengajaran Penjas Adaptif yaitu:

  • Program Pengajaran Penjas adaptif disesuaikan dengan jenis dan karakteristik kelainan siswa
  • Program Pengajaran Penjas adaptif harus dapat mengembangkan dan meningkatkan kemampuan jasmani individu ABK.
  • Program Pengajaran Penjas adaptif harus dapat membantu dan mengkoreksi kelainan yang disandang oleh siswa
  • Untuk menolong siswa mengkoreksi kondisi yang dapat diperbaiki.
  • Untuk membantu siswa melindungi diri sendiri dari kondisi apapun yang memperburuk keadaannya melalui Penjas tertentu.
  • Untuk memberikan kesempatan pada siswa mempelajari dan berpartisipasi dalam sejumlah macam olahraga dan aktivitas jasmani, waktu luang yang bersifat rekreasi.
  • Untuk menolong siswa memahami keterbatasan kemampuan jasmani dan mentalnya.
  • Untuk membantu siswa melakukan penyesuaian sosial dan mengembangkan perasaan memiliki harga diri.
  • Untuk membantu siswa dalam mengembangkan pengetahuan dan apresiasi terhadap mekanika tubuh yang baik.
  • Untuk menolong siswa memahami dan menghargai macam olahraga yang dapat diminatinya sebagai penonton.

Tunagrahita merupakan kata lain dari Retardasi Mental (mental retardation). Tuna berarti merugi.Grahita berarti pikiran. Retardasi Mental (Mental Retardation/Mentally Retarded) berarti terbelakang mental

Klasifikasi tuna grahita diukur dengan tingkat IQ mereka, yang terbagi menjadi 3 yaitu tunagrahita ringan, tunagrahita sedang, dan tunagrahita berat. Keterbelakangan mental yang biasa dikenal dengan anak tunagrahita biasanya dihubungkan dengan tingkat kecerdasan seseorang. Tingkat kecerdasan secara umum biasanya diukur melalui tes Inteligensi yang hasilnya disebut dengan IQ (intelligence quotient).

  1. Tuna grahita ringan biasanya memiliki IQ 70 –55
  2. Tunagrahita sedang biasanya memiliki IQ 55 – 40
  3. Tunagrahita berat biasanya memiliki IQ 40 – 25
  4. Tunagrahita berat sekali biasanya memiliki IQ <25

Para ahli Indonesia menggunakan klasifikasi:

  1. Tunagrahita ringan IQnya 50 – 70
  2. Tunagrahita Sedang IQnya 30 – 50q
  3. Tunagrahita berat dan sangat berat IQnya kurang dari 30

 

 

3.2 Saran

Melalui sedikit penjelasan tentang anak tunagrahita, semoga pembaca yang masih menganggap semua anak tunagrahita itu anak idiot dan tidak memiliki kemampuan apa-apa tidak lagi berpikiran semacam itu. Setelah mengetahui hal ini pula kiranya dapat disosialisasikan kepada siapa saja yang masih belum tahu.

Pertanyaan Dari Peserta Diskusi:

 

  1. Sebutkan kesulitan saat pelaksanaan proses belajar baik teori maupun praktik! (Dimas Mufti, Ika Retno dan Faris)
  2. Jelaskan apakah fasilitas disana cukup menunjang? (Andi Priawan)
  3. Bagaimana sistem pembelajaran disana dan program-program apa saja yang diberikan? (Risas Wahyudi)
  4. Apakah kelas dibagi sesuai tingkatan (tunagrahita berat, sedang dan ringan),dan apa tujuan pembagian tersebut? (Agung Subarkah)
  5. Olahraga apa yang cocok untuk siswa tunagrahita? (Syamsul Hadi)
  6. Apa perbedaan orang gila dengan tunagrahita? (Eko Budi)
  7. Apa yang bisa diperbuat untuk meningkatkan keterampilan atau pengetahuan bagi tunagrahita sedang?Beri contoh kasus dari hasil observasi Anda! (Rizal)
  8. Jelaskan kenapa Anda bilang pendidikan jasmani adaptif sama dengan pendidikan jasmani biasa? (A Zainuri Arif)

 

 

 

DAFTAR RUJUKAN

 

American Asociation on Mental Deficiency/AAMD dalam B3PTKSM

 

American Heritage Dictionary,1982: 644; Maslim.R.,2000:119 dalam Delphie:2006:113

 

http//.panti.tripod.com/2-10-07

 

Somantri,2006:103

 

www.google.com

 

Blog pada WordPress.com. | The Pool Theme.
Entries dan komentar feeds.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.