MASYARAKAT TENGGER

Desember 11, 2009 pukul 4:15 am | Ditulis dalam Tentang Probolinggo | Tinggalkan komentar
Tag:

Sebagian masyarakat Tengger setelah memperoleh “Air Suci” dari Gowa diatas puncak gunung Widodaren

gbromo1.jpg

Sejak ditemukannya prasasti Tengger bertahun 851 Saka (929 Masehi), diperkuat dengan Prasasti Penanjakan bertahun 1324 Saka (1402 Masehi), diketahui bahwa sebuah desa bernama Wandalit yang terletak di pegunungan Tengger dihuni oleh Hulun Hyang (hamba Tuhan = orang-orang yang taat beragama) yang daerah sekitarnya disebut hila-hila (Suci). Oleh karena itu kawasan Tengger merupakan tanah perdikan istimewa yang dibebaskan dari pembayaran pajak oleh pusat pemerintahan di Majapahit.

Since Tengger charter was found in 851 Saka (929 A.D) Strengthen with Penanjakan Charter in 1324 Saka (1402 A.D) stated that there was a village in Tengger mountain range called Wandalit settled by Hulun Hyang (God Fellow – Holy People) where its surounding called hila hila (holy). That is why Tengger area is a special perdikan land which free from tax fee of the centre states in Majapahit.

tengger1.jpg tengger2.jpg
Serangkaian upacara “Mendak Tirta” yaitu pengambilan air suci dari gowa Widodaren yang berada di puncak gunung Widodaren.
Masyarakat Tengger yang taat beribadah dan menjalankan adat istiadat, memiliki hubungan historis yang sangat erat dengan Majapahit. Para raja yang bertahta dan pembesar keraton, telah memperlakukan secara khusus masyarakat Tengger yang sejak semula sangat menarik perhatian. Tidak heran jika kemudian terdapat perbedaan cirri-ciri khas antara pemeluk Agama Hindu di Tengger dengan pemeluk Agama Hindu di Bali.

Tenggerese who are good follower of God and always do their custom strickly, has historical relationship with Majapahit. The kings and his staff have treated, specially, Tenggerese who are really interesting. No wonder if there is difference in characters between Hindu followers is Tengger and Bali.

tengger3.jpgKukuh dalam mempertahankan adat istiadat selama berabad-abad, tanpa terpengaruh guncangan perubahan zaman, merupakan daya tarik bagi Ilmuwan khususnya para Anthropolog baik dalam maupun dari luar negeri, untuk mengadakan penelitian. Sehingga muncul berbagai versi sajian tulisan tentang uniknya Masyarakat Tengger di Probolinggo. Paparan itu ada yang berbentuk dongeng, cerita rakyat, serat dan kidung, legenda serta penulisan ilmiah. Ilmuwan asing yang pernah menelusuri sejarah Masyarakat Tengger adalah Nancy J Smith dan Robert W Hefner, berdasarkan versi mereka.

Strickly, in keeping custom for centuries, without influenced by world’s change is an interesting factor for scientists, especially, anthropologists from our country or other countries to do some research. So there are so many version of the unique of Tenggerese in Probolinggo. The description can be in the forth of tale, folk tale, serat and kidung, legend and science report. Foreign scientist who had research in historical of Tenggerese are Nancy J. Smith and Robert W Hefner, based on their own version.

Masyarakat Tengger sarat dengan acara yang selalu dikaitkan dengan upacara keagamaan maupun upacara adat. Karena sesanti “Titi Luri” yang mereka pegang teguh, maka setiap upacara dilakukan tanpa perubahan persis seperti yang dilaksanakan oleh para leluhurnya berabad-abad yang lalu (“Titi Luri”, berarti mengikuti jejak para leluhur atau meneruskan Agama, Kepercayaan dan Adat-istiadat nenek moyang secara turun temurun).

Tenggerese are always connected with ritual ceremonies or custom ceremonies. Because sesanti “Titi Luri” which hold strickly, the ceremonies always be held without any changes, just as the elder generation in centuries ago (Titi Luri means follow the elder generations traps on continue the religion, belief and custom of anchestor heritagely).

tengger4.jpgSelain taat beribadah dan sangat patuh menjalankan adat-istiadat, Masyarakat Tengger dikenal jujur, patuh, dan rajin bekerja. Mereka hidup sederhana, tenteram, dan damai. Nyaris tanpa adanya keonaran, kekacauan, pertengkaran maupun pencurian. Suka bergotong royong dengan didukung oleh sikap toleransi yang tinggi, disertai sesuatu yang khas, karena senantiasa mengenakan “kain sarung” kemanapun mereka pergi. Tidak terbatas laki-laki, namun wanitapun juga, yang dewasa maupun anak-anak, semua berkain sarung. Masyarakat Tengger masih percaya dengan dengan roh halus, benda-benda gaib, tempat-tempat keramat serta berbagai mitos.

Besides well known as good God follower, and very strick in keeping custom, Tenggerese are well known, too, as honest people, and hard workers. They live simply, safely and peacefully. There almost never troubles, fighting on stealing. They work together supported by their high tolerantion. There is a special thing for Tenggerese. They always wear “sarung” wherever they go. Men, Women, Adult on children, wear “sarung”. Tenggerese still believe in “Roh Halus” (powerful thing), Sacre place and some mythos.

Kelompok-kelompok masyarakat Tengger dikepalai oleh seorang “Dukun”. Dukun-dukun tersebut dikepalai oleh Bapak Mudjono selaku Kepala Dukun. Dukun sebagai pimpinan Agama sekaligus sebagai Kepala Adat, bertugas dan bertanggung jawab dalam memimpin upacara-upacara adat. Dalam menunaikan tugasnya, Dukun dibantu oleh beberapa orang petugas yaitu:

tengger9.jpgThe groups of Tenggerese Society are led by a “dukun” (medicinman). The “dukun” are led by Mr. Mudjono as a leader of the “dukun”. The “dukun” who are both a leader of religion and of the custom has to be responsible for conducting traditional ceremonies.  In doing his duties, the “dukun” is helped by some officers, there are :

1.    Wong Sepuh, bertugas sebagai pembantu dalam menyiapkan sesaji upacara-upacara kematian.
2.    Legen, bertugas membantu mempersiapkan peralatan dan sesaji pada upacara perkawinan.
3.   Dukun Sunat, bertugas melaksanakan khitanan anak laki-laki menjelang umur remaja. Khitan bagi anak laki-laki Tengger berbeda dengan khitan dalam Agama Islam. Khitan anak laki-laki Tengger hanya sekedar memotong sedikit kulit ujung penis.
4.    Dukun Bayi, bertugas menolong ibu yang akan melahirkan.

Memperhatikan betapa pentingnya peran dukun bagi Masyarakat Tengger, maka ditetapkan setiap desa dikepalai oleh seorang Dukun. Dukun dipilih oleh warga dengan persyaratan tertentu, yaitu : (1). Laki-laki sudah menikah, (2). Keturunan Dukun / titisan darah, (3). Dapat menguasai semua mantera / adat istiadat. Ujian calon Dukun dilakukan di Poten tempat upacara adat dan dilaksanakan bertepatan dengan Yadnya Kasada.

1.    Wong Sepuh, he is the one who helps preparing sacrifice in the death-ceremonies.
2.    A “Legen”, the one who helps preparing equipments and sacrifice in wedding parties.
3.    Dukun Sunat, the one who helps carrying out circumcision for boys is different from that in Islam. For Tenggerese boys, the circumcision only cuts off a little skin at the tip of the penis.
4.    Dukun Bayi (a midwife), one who helps women in childbirth.

tengger5.jpg tengger6.jpg tengger7.jpg

Upacara “Melasti” (Pensucian) tempat persembahyangan dalam rangka peresmian penggunaan Poten yang dihadiri oleh  umat Hindu se Jawa Timur dan Bali (kiri), upacara keagamaan dalam rangka Hari Raya Galungan di Poten (tengah), dan Padmasana yaitu tempat pemujaan (kanan).
Seeing a fact that the role of “dukun” is very important in Tengger, the people decide that every village has to be led by a “dukun”. The “dukun” is elected by people with certain requirements : (1) a married man, (2) a descendant of dukun, (3) mastering all incantation or the custom. A test for the “dukun” to be is held in Poten where traditional ceremonies are carried out. The test is carried out coincidentally with Yadnya Kasada.

Konon yang merupakan “Cikal Bakal” masyarakat Tengger adalah sepasang suami istri yaitu Rara Anteng (Teng) dan Jaka Seger (Ger). Perpaduan dua suku kata itulah kemudian menjadi akronim yang dikenal dengan nama TENGGER. Rara Anteng ialah seorang putri Prabu Brawijaya dengan Garwa Padmi, raja terakhir Majapahit, yang termashur memiliki wajah ayu rupawan. Ia diasuh oleh seorang Resi bernama Ki Dadap Putih, tinggal dikawasan Gunung Bromo yang pada waktu itu masih berwujud hutan belantara.

tengger11.jpg

Peta lokasi tempat-tempat keramat di daerah Tengger yang dikaitkan dengan nama 25 putra-putri Joko Seger dan Roro Anteng.
However, the ancestors of Tenggerese are married couple named Rara Anteng (Teng) and Jaka Seger (Ger). The combination of the two syllables were than abbreviated as Tengger. Rara Anteng was a daughter of Prabu Brawijaya and Garwa Padmi, the last King of Majapahit Kingdom, who had a very beautiful face. She was brought up by a saint named Ki Dadap Putih. He lived in Bromo mount area which at that time was still a jungle.

Pada suatu hari, seorang Senopati berdarah Brahmana yang bernama Jaka Seger sedang menempuh perjalanan jauh melintasi daerah ini bertemu dengan Rara Anteng. Kedua muda-mudi tersebut saling tertarik dan jatuh cinta yang akhirnya dikawinkan oleh Resi Ki Dadap Putih. Sejak saat itu Rara Anteng dan Jaka Seger resmi menjadi pasangan suami-istri.

One day, a commander of Kingdom troops called a “Senopati” who was a descendant of Brahmana named Jaka Seger had a very long journey and passed by the place. He than met Rara Anteng. Both the young man and young girl fell in love and were married out by Resi Ki Dadap Putih at that moment, they become a married couple.

tengger13.jpg tengger14.jpg tengger16.jpg

Prosesi upacara pernikahan masyarakat Tengger
Bertahun-tahun Rara Anteng dan Jaka Seger mendambakan keturunan, namun Yang Maha Kuasa belum juga berkenan mengkaruniai putra. Maka bertapalah mereka di Watu Kuta menghadap Gunung Bromo. Siang malam hanya berdoa semoga Sang Maha Agung mengabulkan permintaannya.

For many years Rara Anteng and Jaka Seger wanted to have a child but God did not give them a child yet. That is why they “practised” asceticism” in Watu Kuta facing Bromo mount. Day and night they orayed to God in order that he granted their wish.

Suatu ketika, terjadi isyarat alam yang sangat dahsyat. Gunung Bromo berdentum hebat. Dari kawahnya menyembur api yang membiaskan sinar kemerahan, menerangi pekat malam dan menyadarkan kekhusukan Rara Anteng dan Jaka Seger yang sedang bertapa. Mereka yakin bahwa peristiwa alam dahsyat yang baru saja terjadi merupakan isyarat bahwa permohonan akan terkabul. Namun isyarat alam itu segera diikuti oleh terdengarnya suara gaib yang mengatakan : “Bahwa kelak apabila Sang Hyang Widhi berkenan mengaruniai putra-putri, salah seorang akan dijadikan korban persembahan ke kawah Gunung Bromo”. Kembali dentuman dahsyat kawah Gunung Bromo itu terjadi, seakan menjadi saksi, bahwa terkabulnya permohonan Rara Anteng dan Jaka Seger harus ditebus dengan persembahan salah seorang anaknya ke Kawah Gunung Bromo.

tengger10.jpgOne day, there a natural sign Bromo mountain exploded. The crater exploded the red light, giving a light in the darkness of the night and waking up Rara Anteng’s and Joko Seger’s ascebicism. They believe that the natural sign happened just now was a sign that their wish would come true. But its natural sign followed by a misterious sound that said : that one day when Sang Hyang Widhi (God) wanted to give them children, one of them had to sacrifice to Bromo Crater (Bromo Mountain). The explosion of Bromo crater happened again, it was as a witness that Rara Anteng’s and Jaka Seger’s wish come true but they had to sacrifice one of their children to Bromo crater.

Ternyata isyarat alam itu benar. Selang beberapa waktu kemudian Rara Anteng melahirkan putra pertama. Anak sulung ini diberi nama Tumenggung Klewung. Disusul kemudian dengan putra-putri berikutnya yang jumlahnya sebanyak 25 orang. Anak paling bungsu diberi nama Raden Kusuma. Kehadiran 25 putra putri tersebut sangat membahagiakan. Namun dibalik kebahagiaan itu terselip kecemasan tentang syarat yang harus dipenuhi. Rara Anteng dan Jaka Seger senantiasa menjaga putra-putrinya dengan hati-hati. Kepada mereka disarankan untuk selalu menjauhi kawah Gunung Bromo.

In fact, that sign was true, many days later, Rara Anteng got birth her first child. The name of the first son was Tumenggung Klewung. And than, followed by other children and they had 25 children made them happy. But there was something wondered about the requirement that they had to be fulfilled. Rara Anteng and Jaka Seger always kept their children carefully. Their children suggested to go far away from Bromo carter.

Ketika pada suatu hari terdengar dentuman keras dari kawah Gunung Bromo, pasangan suami istri ini kembali menjadi gundah. Mereka menangkap isyarat alam yang maknanya merupakan peringatan untuk menagih janjinya. Diam-diam ada pertentangan batin yang sangat mengusik, antara kewajiban untuk memenuhi syarat dengan naluri orang tua yang menyayangi putra-putrinya. Pada akhirnya diputuskan untuk tidak merelakan salah satu dari putra-putrinya dijadikan korban persembahan. Mereka tepis semua kecemasan, kesanggupan untuk memenuhi syarat korban persembahan secara perlahan mulai dilupakan.

One day, heard the explosion from Bromo carter, the couple wife and husband became restless. They understood the meaning of natural sign, that was warning them to keep the promise. Silently, in their heart there was a gap between keeping the promise and parent’s feeling that loved their children. At last, they decided not to sacrifice one of them. They tried to forget all wonder, to keep the promise to give a requirement step by step, they neglected.

tengger12.jpg

Taman Nasional Bromo Tengger Semeru
Putra-putrinya disembunyikan dibalik Gunung Penanjakan dengan harapan terhindar dari bahaya. Tetapi kehendak yang Sang Maha Agung tak bisa dielakkan lagi. Pada suatu hari kawah Gunung Bromo menyemburkan api, lidah api yang membara menjilat Raden Kusuma, menyeretnya masuk ke dalam kawah. Dengan misterius Raden Kusuma hilang. Setelah itu suasana alam menjadi tenang kembali. Dentupan api kawah reda. Dalam keheningan alam, terdengar suara gaib yang mengisyaratkan bahwa hilangnya Raden Kusuma adalah perwujudan dari syarat yang harus dipenuhi, sebagai persembahan kepada Dewata Sang Yang Agung, atas terkabulnya permintaan ketika mereka bertapa. Selanjutnya suara gaib (Raden Kusuma) berpesan agar setiap tanggal 14 bulan Purnama, di Bulan KASADA, disediakan sebagian hasil ladang umtul dikirimkan kepada Raden Kusuma di Kawah Gunung Bromo.

Their children were hidden in the backside of Pananjakan mountain, by haing wish that they would be for away from dangerous. But the desire of Sang Maha Agung (God) could not neglect anymore. One day Bromo carter exploded the fire, the tongue of fire licked Raden Kusuma disappeared mysteriously. After that, the natural situation became calm again. The fire explosion of crater settled down. In the quiet natural, there was a misterious sound that was a sign that Raden Kusuma disappeared because of keeping the promise as requirement for Dewata Sang Hyang Agung (God). He had given them children as they wanted. Next, the misterious sound (Raden Kusuma) gave an order to provide half of the havest to be sent to Raden Kusuma in Bromo crater every Full Moon at 14th, Kasada Month.

tengger22.jpg tengger20.jpg

Jenasah dikubur ketimur dalam posisi terlentang (kiri), setelah jenasah dikubur diadakan upacara yang dipimpin oleg “Dukun”(kanan).
Meskipun masih diliputi suasana sedih, suara gaib yang mereka dengar merupakan petunjuk yang mereka yakini untuk kemudian dapat mereka laksanakan. Rara Anteng dan Jaka Seger menyadari meskipun mereka sudah berusaha menjaga dan melindungi putra-putrinya, namun Sang Hyang Agung menghendaki lain. Bagaimanapun kepergian Raden Kusuma yang berkorban mewakili saudara-saudaranya harus mereka ikhlaskan.

Event hough, they were still sad, the misterious sound that they heard was a direction that they belived to do it. Rara Anteng and Jaka Seger reliezed that eventhough they tried to keep and protect their children, Sang Hyang Agung (God) had something different. However Raden Kusuma went, they surrender fully.

Maka setiap tanggal 14 bulan purnama di bulan Kasada, dikirimilah Raden Kusuma beragam hasil ladang ke kawah Gunung Bromo. Upacara persembahan tersebut menjadi tradisi yang diselenggarakan secara turun temurun hingga sekarang yang diberi nama Yadnya Kasada.

Because of that, every full moon at 14th in Kasada Month, people sent Raden Kusuma many kinds of havest in Bromo Mountain. That gift ceremony becomes a tradition (custom) that held heritagely up to now. And it is called Yadnya Kasada.

Nama putra-putri Rara Anteng dan Jaka Seger yang berjumlah 25 orang itu dikaitkan dengan tempat-tempat keramat di daerah Bromo, yaitu:
1.    Tumenggung Klewung (Gunung Ringgit)
2.    Sinta Wiji (Gunung Kidangan)
3.    Ki Baru Klinting (Lemah Kuning)
4.    Ki Rawit (Gunung Sumber Semani)
5.    Jinting Jinah (Gunung Jinahan)
6.    Ical (Gunung Pranten)
7.    Prabu Siwah (Gunung Lingga)
8.    Cokro Pranoto Aminoto (Gunung Gendera)
9.    Tunggul Wulung (Cemoro Lawang)
10.    Tumenggung Klinter (Gunung Penanjakan)
11.    Raden Bagus Waris (Watu Balang)
12.    Ki Dukun (Watu Wungkuk)
13.    Ki Pranoto (Poten)
14.    Ni Perniti (Gunung Bajangan)
15.    Petung Supit (Tunggukan)
16.    Raden Mas Sigit (Gunung Batok)
17.    Puspa Ki Gentong (Widodaren)
18.    Kaki Teku Niti Teku (Guyangan)
19.    Ki Dadung Awuk (Banyu Pakis)
20.    Ki Demeling (Pusung Lingker)
21.    Ki Sindu Jaya (Wonongkoro)
22.    Raden Sapujagad (Pundak Lemdu)
23.    Ki Jenggot (Rujag)
24.    Demang Diningrat (Gunung Semeru)
25.    Raden Kusuma (Gunung Bromo)

The names of Rara Anteng’s and Jaka Seger’s children (25 children) was hooked on the sacre places in Bromo, they are :
1.    Tumenggung Klewung (Ringgit Mount)
2.    Sinta Wiji (Kidangan Mount)
3.    Ki Baru Klinting (Lemah Kuning)
4.    Ki Rawit (Sumber Semani Mount)
5.    Jinting Jinah (Jinahan Mount)
6.    Ical (Pranten Mount)
7.    Prabu Siwah (Lingga Mount)
8.    Cokro Pranoto Aminoto (Gendera Mount)
9.    Tunggul Wulung (Cemoro Lawang)
10.    Tumenggung Klinter (Penanjakan Mount)
11.    Raden Bagus Waris (Watu Balang)
12.    Ki Dukun (Watu Wungkuk)
13.    Ki Pranoto (Poten)
14.    Ni Perniti (Bajangan Mount)
15.    Petung Supit (Tunggukan)
16.    Raden Mas Sigit (Batok Mount)
17.    Puspa Ki Gentong (Widodaren)
18.    Kaki Teku Niti Teku (Guyangan)
19.    Ki Dadung Awuk (Banyu Pakis)
20.    Ki Demeling (Pusung Lingker)
21.    Ki Sindu Jaya (Wonongkoro)
22.    Raden Sapujagad (Pundak Lemdu)
23.    Ki Jenggot (Rujag)
24.    Demang Diningrat (Semeru Mount)
25.    Raden Kusuma (Bromo Mount)

Upacara KASADA yang diselenggarakan pada tengah malam ketika Purnama berada diatas kepala itu, dipimpin oleh DUKUN (Kepala Adat) dengan tata cara yang unik. Tidak mengherankan apabila kemudian peristiwa ini sangat dinanti-nanti oleh para wisatawan. Sehingga terasa begitu akbar, karena disaksikan oleh puluhan bahkan ratusan ribu pasang mata yang ikut menyaksikannya.

Kasada ceremony held in the middle of the night when the full moon is exectly top of our head. It is led by the medicine man (dukun) with with the unique rules. It is not wondered that many tourists see the ceremony, so Kasada ceremony seems too prestigious. Thousands people see that ceremony.

tengger17.jpgLaut Pasir yang biasanya lengang menjadi hangar bingar. Tenda didirikan berderet-deret. Laut Pasir ketika itu berubah menjadi lautan manusia yang menyemut. Mereka merayap dengan tertib menaiki tangga menuju puncak Gunung Bromo, dialam terbuka yang dingin, dengan penerangan tunggal yang menggantung di langit, yaitu cahaya Purnama yang temaram. Sungguh merupakan peristiwa yang tidak setiap saat dapat ditemukan.

The  silent desert becomes a noisy one. Many tents settled down, the desert, at that time, changes into the human sea which look like thousand ants. The creep to the stairs to go to the pick of Bromo Mountain orderly. The cold natural features and there is only one light which comes from the sky. That is full moon light. It is nearly unusual event that is difficult to find everytime.

Dari sekian banyak tamu yang hadir, terdapat orang-orang penting seperti Ilmuwan, Duta Besar Negara Sahabat, Tamu Negara, Menteri, Gubernur, Bupati dan para pejabat lainnya. Bagi masyarakat Tengger, kehadiran beliau-beliau itu merupakan kehormatan. Oleh karena itu, ada diantaranya yang kemudian dinobatkan menjadi “sesepuh” bagi masyarakat Tengger.

When the guestes come, there are many important men such as scientist, Ambassadors, Country’s Guest, Ministers, Govenors, Head Regent and others. It is respection for Tenggerese. Because of that, one of the important men (guestes) will be becomes as “sesepuh” by Tenggerese.

Secara etimologi Tengger memiliki arti berdiri tegak, sedangkan secara filosofi Tengger bermakna “Tenggering Budi Luhur”. Maksudnya, masyarakat Tengger selalu berorientasi pada sifat dan kepribadian yang berbudi pekerti luhur. Hal ini menyangkut sikap, pandangan hidup, perilaku, hubungan antar manusia, siklus kehidupan dan konsep tentang manusia, menurut masyarakat Tengger.

Ethnologily, Tengger means stand firm, and phylosophycally Tengger means “Tengger Budi Luhur” (Signing of good attitude). It means that Tenggerese are always oriented on good attitudes and personalities. It includes attitude, life point of view, behaviour, relationship with other people the life cicles and the concept of human being, according to Tenggerese.

tengger18.jpgPandangan hidupnya tercermin dari harapan-harapannya seperti Waras (sehat), Wareg (kenyang), Wastra (berpakaian), Wisma (bertempat tinggal), Widya (berilmu dan trampil). Sikap dan tingkah laku berpedoman pada Prasaja (sederhana dan apa adanya), Prayogo (bijaksana), Pranata (taat, patuh dan tertib), Prayitno (waspada) dan Prasetya (setia). Agaknya kesetiaan menjadi landasan bagi terciptanya hubungan antar mereka, yaitu : Setya Budaya (taat pada tradisi dan adapt istiadat), Setya Wacana (mematuhi ucapan, saran dan nasehat), Setya Semaya (menepati janji), Setya Laksana (tekun, siap melaksanakan perintah), Setya Mitra (setia kawan).

Their life point of view can be seen from their achievement, such Waras (healty), Wareg (satisfied), Wastra (closthing), Wisma (settle down), Widya (clever and skillful). Their attitudes and behaviours based on Prasaja (simply and acting whatever they are), Prayogo (wise), Pranata (obey and other), Prayitno (careful) and Prasetya (loyal). It seems that the loyality is a basic to create a good relationship between them, that is : Setya Budaya (obey to tradition and custom), Setya Wacana (obey the saying, suggestion), Setya Semaya (keep promise), Setya Laksana (diligent, ready to do all the order), Satya Mitra (loyal in friendship).

Konsep tentang manusia disebutkan adanya siklus kehidupan mulai dari kehamilan dan kelahiran, perkawinan serta kematian. Momen-momen yang menyangkut peristiwa penting tersebut selalu dirayakan dengan Wilujengan (setara dengan upacara adat dan sulit dibedakan dengan upacara agama).

The concept of human being mentioned about the cicles of life, first of all it’s began from pregnancy and birth, marrying and death. The important events always are celebrated by wilujengan (the same as tradition ceremonies and it is difficult to differ the religious and tradition ceremony).

tengger19.jpg

Upacara Entas-Entas adalah permohonan ampunan kepada Yang Maha Agung agar diampuni dosa-dosanya dan masuk surga.
Pada saat ibu hamil 7 bulan dirayakan dengan Upacara Sesayut. Kelahiran disambut dengan upacara untuk memberitahukan tumpah darah atau tanah tempat kelahiran. Cuplak Puser (lepas pusar), dirayakan dengan upacara Kekerik dan pada usia 4 tahun ditandai dengan upacara Tugel Kuncung (pemotongan rambut) bagi anak perempuan dan Tugel Gombok bagi anak laki-laki.

There is Sesayut Ceremony if mother has pregnantfor 7 months. The birthday is celebrated by the ceremony to tell about the native soil or fatherland. “Cuplak Puser” (get off the centre) is celebrated by “Kekerik Ceremony” and when the child is 4 years old signed by “Tugel Kuncung Ceremony” (cutting hair) for girl and “Tugel Gombok” for man.

Perkawinan kembali dirayakan dengan upacara Walagara. Tentu saja dengan tatacara, sesaji, mantra yang sesuai dengan keperluan wilujengannya. Perkawinan merupakan sebuah peristiwa penting dalam kehidupan manusia, sebab perkawinan bukan hanya menyangkut dua orang yang memadu cinta saja tetapi perkawinan juga melibatkan dua keluarga dan masyarakat secara umum. Menurut kepercayaan  Masyarakat Tengger, peristiwa perkawinan juga diikuti oleh arwah-arwah para leluhur kedua belah pihak. Sebelum upacara perkawinan dimulai, didahului dengan acara nelasih atau ziarah kubur dan memberikan tetamping atau sesaji.

Marriage (wedding) is celebrated by walagara Ceremony. Of course by the rules, “Sesaji” (offer), “Mantra” (charm) that is suitable with the need of its wilujengan. Marriage is the important event in the life of man, because marriage is not only included two people who love each other, but also included two families and society in general. According to Tenggerese’s belief, marriage event is also followed by the soul of both ancestors. Before wedding ceremony began, it is preceded by “nelasih ceremony” or visit to grave and give “tetamping” or offer (“sesaji”).

tengger15.jpg tengger21.jpg

Ladang umumnya ditanami kubis dan kentang (kiri), jalan menuju Air Terjun Madakaripura selalu melewati sawah dan ladang yang subur.
Penyediaan berbagai upacara lengkap dengan sesajinya oleh sebagian orang masih dianggap takhayul, namun kenyataannya masih dilakukan orang dalam berbagai lapisan masyarakat. Proses perkawinan masyarakat Tengger di Ngadisari juga melalui tahapan-tahapan, tidak jauh berbeda dengan adat istiadat daerah lain, yaitu proses mencarikan jodoh, lamaran dan upacara perkawinan itu sendiri. Perkawinan Masyarakat Tengger umumnya masih berlaku antara kalangan mereka sendiri (endogami). Bila calon mempelai wanita Tengger akan menikah dengan pria non Tengger, maka pelaksanaanya harus mengikuti adat Tengger  dan menikah dengan acara agama Hindu. Kalau laki-laki Tengger menikah dengan gadis di luar masyarakat Tengger (non Tengger), misalnya menikah dengan gadis Islam, maka perkawinan boleh menurut agama Islam atau sebaliknya. Meskipun ia telah menikah secara non Tengger, tetapi masih diakui sebagai “sedulur” (keluarga) dan tetap dianggap sebagai warga Tengger.

The preparation of every ceremony complete with sacrifices (offers) is regarded as superstitious, but it is still be done by society. The process of marriage of Tenggerese in Ngadisari consist of some phases-getting marriage partner, proposing and wedding party. It is likely the some as other societies custom. Commanly the marriage of Tenggerese happens in their own society (endogami). If a married man who is not of Tengger, than everything must be done according to the Tenggerese’s custom. And the wedding party is arranged in Hinduism’s way. If young man of Tengger marries a woman who is not of Tengger – a Moslem for example. Then the marriage may be arranged in Islam’s way or in Hinduism’s way. An he’ll still accepted as “sedulur” (relative) and he will still be people of Tengger.

Umumnya pemuda Tengger mencari jodoh atau istri sendiri. Hari perkawinan tidak lepas dari perhitungan weton (hari kelahiran) calon mempelai seperti dalam adapt perkawinan Jawa. Jumlah neptu kelahiran mempelai bila dibagi tiga tidak boleh habis dan yang terbaik bila sisa dua. Tahap selanjutnya apabila kedua orang tua telah setuju, maka calon mempelai laki-laki sendiri yang datang melamar, diantar orang tuanya. Dalam lamaran tidak ada barang “peningset” seperti pada masyarakat Jawa, sebab menurut anggapan mereka, peningset itu merupakan barang pinjaman atau hutang. Biasanya  sebelum hari perkawinan, pihak keluarga mempelai laki-laki datang lagi ke rumah calon besan dengan membawa beras dan bahan-bahan mentah lainnya. Pelaksanaan perkawinan bertempat di rumah keluarga mempelai wanita, umumnya pada pagi hari. Mempelai laki-laki duduk di sebelah kanan dukun, sedangkan wali mempelai perempuan duduk di sebelah kirinya. Di depan mereka tersedia seperangkat sesaji terdiri dari 5 piring jenang merah-putih, 1 piring arang-arang kambang, 7 piring nasi dan telur, satu sisir pisang ayu (pisang raja), 7 buah nasi golong dan telur, uang secukupnya.

Generally the young men of Tengger find their couple by them selves. It is similar to the Javanese custom that the calculation of  “weton” (the day when the bride or bridegroom are born) is taken to determine in what day the wedding party will take place. The total of “neptu” of bride / bridegroom’s birthday must not be a multiple of 3. It is considered best is “neptu” remains 2 after being divided into 3. The next phase is that the young man, accompanised by his parents comes to propose his wife to be. In proposing the girl, the young man doesn’t give “peningset” to her because they think that accepting “peningset” means owing something. They just bring rice, onion, chili etc. Instead the wedding party takes place at the bride’s home, usually in the morning. The bridegroom sits in the right side of medicine man (“dukun”), while the bride’s “wali” is in the left side of medicine man. 5 plates of red and white rice porridge a plate of  “arang – arang kambang”, 7 plates of rice with eggs a bunch of bananas (pisang raja), 7 plates of “golong rice” with eggs and some many.

tengger24.jpgSambil membaca mantra, tangan kiri dukun memegang tangan kanan wali, tangan kanannya memegang tangan kanan mempelai laki-laki. Baik mempelai laki-laki maupun wali disuruh menirukan ucapan dukun. Ada kalanya perkawinan terpaksa dibatalkan karena sesuatu sebab, misalnya:
1.    Karena hubungan keturunan yang masih dekat, misalnya satu canggah (neneknya nenek).
2.    Dadung kepuntir. Contoh, A, B dan C masing-masing mempunyai anak laki-laki dan juga anak perempuan. Mereka bukan keturunan satu canggah. Tetapi kalau anak laki-laki A kawin mendapat anak perempuan B, anak laki-laki B kawin dengan anak perempuan C dan anak laki-laki C kawin dengan anak perempuan A, maka perkawinan semacam ini tidak diperbolehkan.
3.    Papakan Wali. Contohnya, A dan B masing-masing mempunyai anak laki-laki dan perempuan. Anak laki-laki A kawin mendapat anak perempuan B dan anak laki-laki B kawin mendapat anak perempuan A. Maka perkawinan demikian disebut papagan wali dan tidak diijinkan.
4.    Kesandung watang atau kerubuhan gunung, bila akan dilakukan perkawinan ada keluarga dekat yang meninggal dunia, maka perkawinan harus dibatalkan.

The medicine man’s holding the right hand of wali’s (family) with his left hand and the left hand of bridegroom with his right hand while he is saying oaths. Both “wali” and bridegroom repeat after the medicine man (dukun). Sometimes marriage is cancelled because some reason as follow :
1. Both young man and girl who will marry are close relative [they have one great – great – grandmather (“canggah”)].
2. “Dadung Kepuntir”, example : A, B and C each of them has daughters and sons. They do not have the same “canggah” A’s son marries B’s daughter. The son of B marries C’s daughter and C’s son marries the daughter of A’s. This kind of marriage is not permited.
3. “Papakan Wali”. Example : Each of A and B have daughter and son. A’s son marries B’s daughter, and the son of B marries A’s daughter.
4. “Kesandung Watang”. or “Karubuhan Gunung”. The wedding party must be cancelled if one of bride’s or bridegroom’s close relative passes away.

Kematian tidak dilaksanakan upacara Ngaben seperti di Bali. Masyarakat Hindu di Tengger tidak mengenal pembakaran mayat seperti di Bali, tetapi melakukan pembakaran boneka berpakaian yang dilambangkan manusia yang meninggal ditempat pembakaran setelah mayat dimakamkan. Sesudah dimandikan dengan air yang dimantrai oleh dukun, mayat orang meninggal lalu dikafani kain putih tiga lapis, kemudian diusung dengan ancak terbuat dari bambu, dikubur membujur ke timur dan terlentang. Selanjutnya diadakan upacara “misahi”, yaitu perpisahan antara orang yang meninggal dengan keluarganya, dipimpin seorang dukun. Selanjutnya setelah 44 hari atau lebih diadakan Upacara “Entas-Entas”.

Tenggerese do not have the same burial service as Balinese’s. They burn a doll which is symbolized as a dead person instead of a corpse. After being bathed, the corpse is serounded in while cloth 3 times. Then it is brought with a bamboo stand to cemetery for burrial. The corpse is burried with is a head  put eastward. After that a ceremony called “misahi” means a farewell between the dead person and his family. 44 days later there will be another ceremony “Entas – Entas”.

Upacara ini dimaksudkan untuk memohon ampun kepada Sang Maha Agung agar arwah almarhum yang masih “Nglambrang” (melayang-layang tak menentu) segera dapat masuk surga. Pada upacara entas-entas ini dibuat boneka yang terbuat dari dedaunan, bunga kenikir dan janur kuning yang menggambarkan jasad almarhum. Boneka tersebut disebut petra. Petra diberi pakaian dari pakaian asli almarhum yang dientas. Banyaknya petra yang dientas juga menurut jumlah orang yang meninggal.

“Entas – Entas” is means to ask appology to God. So that God will forgive the dead person and allows his soul / spirit comes to heaven. In this ceremony, the family of dead person. The doll is made of leaves, flowers (called “kenikir”) and young coco-nut leaf and dressed with the clothes of the head person. The doll is called “Petra”. The number of Petra must be the same with the number  of the dead people.

tengger23.jpg tengger27.jpg

Beberapa versi sendratari Roro Anteng dan Joko Seger yang dipagelarkan menjelang upacara “Yadnya Kasada”
Dukun membacakan mantra pendahuluan selama lebih dari satu jam sambil membunyikan genta kecil. Di depan dukun ada beberapa anak kecil tidak memakai baju, dikerudungi kain putih. Jenis kelamin dan jumlah anak-anak menurut jenis kelamin dan jumlah yang dientas. Selama dukun membaca mantra, kira-kira baru separuhnya, ibu dukun dibantu beberapa lainnya menanak nasi dengan api dari buah jarak.

The medicine man (dukun) is saying preliminary oath while clinging a little bell. There are many children in front of medicine man. They use white clothes as covers of their heads and do not wear shirts. The number and sex of the children are in according to the dead persons.

Selanjutnya dukun membakar sedikit ujung rambut anak-anak tadi, lalu menjarumi kain putih yang dijadikan kerudung. Dukun hanya menirukan gerakan orang menjarum, tetapi tanpa benang. Setelah selesai, dukun menaruh beras dikepala anak-anak tadi, kemudian mengambil itik dan ayam putih mulus, dipatuk-patukan pada beras dikepala anak-anak tadi. Legen memecah buah kelapa dengan parang didepan pintu rumah. Acara terakhir dibacakan mantra penutup oleh dukun, kemudian petra-petra tersebut dibawa ke tempat danyang (tempat peleburan) untuk dibakar. Rupanya pembakaran petra dimaksudkan sebagai pengganti upacara ngaben.

When medicine man is saying the oath, some witches cook rice over the flame from the distance. Then the medicine man burns the tip of children’s hair and he pirs the cover of the children without treads. After that he puts rice on the children’s head and takes the white hen and white duck to peck the children’s head, legen, cutting off a coconut with little sword called “parang” in front of the door. Finally, the medicine man swears the last oath in the end of the ceremony, then the Petras are brought to the certain place called “danyang” to burn. It seems that the ceremony is arranged instead of “ngaben”.

tengger28.jpgSebagai orang Majapahit, masyarakat Tengger membawa ada dan kebudayaan Majapahit di pemukiman baru. Tetapi tidak nampak kebesaran budaya Majapahit dipemukiman mereka, seperti seni pahat dan seni patung yamh indah, gelar bangsawan atau kasta. Hal ini mungkin karena mereka ingin menyembunyikan identitas diri mereka sebagai pelarian. Namun adat istiadat, agama dan sikap hidup tetap hidup  dan dipatuhi hingga sekarang. Mereka berbahasa Jawa Tengger yang khas, agak berbeda dengan bahasa Jawa umumnya di Jawa Timur. Mereka mengenal semedi, puasa ngebleng (tidak makan tidak minum sama sekali), puasa mutih (hanya makan nasi putih dan air putih saja), yang biasa dilakukan oleh orang Jawa pada masa lalu.

As Mojopahit people, Tenggerese has Mojopahit,s culture in new einvironment. But it seems that the greatness of Majapahit custom does not exist as a beautiful carned and sculpture, nobihty title or “kasta”. It is caused they want to hide their identity as an escapation. But their custom religion and the way of life is still connected till now. They use their special language which called Java Tengger which is a little bit different to Javanese. They know asceticism, “ngebleng facting” (fasting without taking drink in a whole day), “mutih fasting” (they only take rice and freh water for breakfast). This kind of fasting is only done Javanese is the past.

Dasar perhitungan yang digunakan untuk tanggal, bulan dan nama hari, nama bulan bersifat khas dan berlaku khusus bagi masyarakat Hindu di Tengger. Meskipun sebulan berjumlah 30 hari seperti pada umumnya, Masyarakat Tengger hanya mengenal tanggal 1 sampai tanggal 15. Selanjutnya untuk tanggal 16 sampai tanggal 30 disebut panglong 1 sampai panglong 15. Jadi perhitungan tanggal didasarkan pada munculnya bulan Sabit hingga Bulan  Penuh (Purnama). Tatkala bulan berjalan susut (berkurang) yaitu sejak tanggal 16 sampai dengan 30 disebut panglong. Urutan nama hari ia-lah : 1. Soma (Senin), 2. Anggara (Selasa), 3. Budha (Rabu), 4. Wrespati (Kamis), 5. Sukra (Jum’at), 6. Tumpek (Sabtu), 7. Radite (Minggu).

The basic to count is used for date, month and day, month has a special features and it is used for Hinduism in Tengger. Eventhough a month isst till 15th. Then 16th up to 30th is called “panglong 1” up to “panglong 15”. So, the date’s counting is based on the appearance of sabit moon (half moon) until full moon. The days are : 1. Soma (Monday), 2. Anggara (Tuesday), 3. Budha (Wednesday), 4. Wrespati (Thursday), 5. Sukra (Friday), 6. Tumpek (Saturday), 7. Radite (Sunday).

Perhitungan tahun yang dipergunakan adalah Tahun Caka (Saka), 1 Tahun 354 hari terbagi atas 12 Bulan dengan nama-nama bulan sebagai berikut : 1. Bulan Kasa, 2. Bulan Karo, 3. Bulan Katiga, 4. Bulan Kapat, 5. Bulan Kalima, 6. Bulan Kanem, 7. Bulan Kapitu, 8. Bulan Kawolu, 9. Bulan Kasanga, 10. Bulan Kasepuluh, 11. Bulan Desta, 12. Bulan Kasada.

The counting of years is used are Caka Year (Saka), one year is 354 days divided into 12 month. They are : 1. Kasa Month, 2. Karo Month, 3. Katiga Month, 4. Kapat Month, 5. Kalima Month, 6. Kanem Month, 7. Kapitu Month, 8. Kawolu Month, 9. Kasanga Month, 10. Kasepuluh Month, 11. Desta Month, 12. Kasada Month.

Hampir setiap tahun Masyarakat Tengger menyelenggarakan Upacara sesuai dengan sifat dan kepentingannya, sebagai bukti kepatuhan menjalankan adat dan tradisi. Upacara atau perayaan disebut juga Wilujengan itu antara lain :
1.    Wilujengan Karo,  dilaksanakan tanggal 7 bulan kedua, ditujukan kepada atman atau arwah para leluhur dan pada panglon 1 diadakan upacara sodoran. Sebenarnya Hari Raya Karo merupakan hari raya terbesar bagi masyarakat Tengger dan dilakukan secara bergantian di desa-desa. Segala pikiran dan dana dikerahkan untuk merayakan hari istimewa ini.

Almost every month, Tenggerese Society holds a ceremony in accordance with its characteristics and interests, as a proof of obedience to the custom and tradition. The ceremonies or celebrations which are also called “wilujengan”, among others, are :
1.    Wilujengan Karo, held on the 7th of the second month, is deroted to “Atman” or the souls of the ancestors, and on “1st panglong” Sodoran Ceremony is held. Actually, “Karo feast day” is the greatest feast day of all for Tenggerese people and held in turn among the villages. All attention and fund are paid for celebrating this special day.

Peringatan Hari Raya Karo dilakukan dengan menampilkan tarian sakral yang disebut Sodoran. Tarian ini melambangkan gerakan manusia dalam memperoleh keturunan. Upacara Sodoran ini hanya dilakukan di tiga desa yaitu Desa Ngadisari, Wonotoro dan Jetak secara bergantian setiap tahun dan dilakukan hanya oleh satu di suatu tempat upacara (balai desa). Masing-masing kelompok masyarakat desa yang akan melaksanakan upacara Sodoran dipimpin oleh seorang kepala desa setempat yang disebut sebagai ratu dalam tarian sakral tersebut. Untuk menuju ke tempat upacara yang ditentukan, kelompok masyarakat desa tadi berjalan-jalan bersama-sama dengan mengenakan pakaian adat Tengger (terdiri dari ikat kepala atau udeng, baju dan jas hitam, kain panjang). Semua yang dikenakan mulai baju, celana panjangm sepatu/sandal semua warna hitam gelap, mereka menari dengan iringan musik tradisional. Tari Sodoran dilakukan secara bergantian dan diakhiri oleh tarian para ratu serta pengawalnya dengan iringan gamelan.

The commemoration of Karo feast day is done by performing a sakral dance, called Sodoran. This dance simbolizes human’s activity to get heredity. This ceremony is held only in three villages, namely, Ngadisari, Wonotoro and Jetak. They hold if in turn every year and all Tenggerese from these three villager gather in the village meeting hall, as the place of the ceremony. Each group of the villagers who will to the ceremony is lead by the local village headman, called princess in the sakral dance. To go to the hall, the group of villagers walk together, wearing the traditional clothes of Tenggerese (consisting of head tie or udeng, shirt and black coat,  sarung). All the things worn from shirt, trousers, shoes or sandal are heavy black in colour, they dance with the accompanist of traditional music. Sodoran dance is done in turn and gate ented by the dance of princess and their guards with the accompaniment of gamelan.

Mulai panglong dua sampai panglong tujuh (tanggal 17 sampai dengan 22), upacara dilanjutkan di rumah masing-masing dengan membuat sesaji tumpeng kecil-kecil, lauk-pauk, bermacam-macam bunga, bermacam-macam kue, kopi, rokok, kapur sirih (kinang), pisang raja dan lain-lain, diikuti acara kunjungan dukun dari rumah ke rumah warga untuk memberikan mantra. Biasanya pekerjaan ini baru bias diselesaikan tiga hari dua malam. Acara ini dilanjutkan dengan kunjungan masing-masing warga kepada sanak saudara atau tetangganya.

From the “second panglong” to the seventh one (on 17th – 22) the ceremony is held in each house by making sacrifices of small cone shaped rice, all sorts of side – dishes, flowers, cakes, coffee, cigarette, betel leaf (kinang), bananas, etc, then followed by the visit of “dukun” from one house to another to gire incantations. This activity (the visit) lasts for three days and two nights. This, then, is followed by villagers visit to their relatives and neighbours.

tengger8.jpgAcara baru berakhir pada panglong tujuh dan sebelum panglong tujuh dilakukan nyadran atau jiarah kubur dengan menaruh kembang boreh atau tetamping (sesaji). Selama hari raya Karo, siapapun yang datang bertamu pada warga Tengger, harus menerima jamuan makan dan minum. Bila menolak dianggap tidak menghargai yang punya rumah. Karena itu bila mengunjungi beberapa keluarga, sekaligus harus diatur jangan sampai perut kekenyangan sehingga kunjungan yang terakhir tidak sanggup untuk menerima jamuan makan lagi.
2. Wilujengan Kapat, dilakukan pada tanggal 4 bulan keempat untuk memperingati sedulur papat lima pancer, momong jangkung atau momong dusun (yang menjaga desa) dan monco papating dusun atau kiblat empat desa. Upacara dilakukan dib alai desa.
3. Wilujengan Kapitu, dilaksanakan pada tanggal 1 bulan ketujuh. Diadakan puasa pati-geni, tidak boleh makan dan tidur sehari semalam suntuk, diam di kamar atau di tempat yang sepi, kemudian dilanjutkan dengan puasa mutih, hanya makan nasi putih dan air tawar selama sebulan penuh dan diakhiri dengan puasa pati-geni lagi. Puasa ini biasanya hanya dilakukan oleh pamong desa, terutama dukun, legend dan wong sepuh.
4. Wilujengan Kawolu, dilaksanakan pada tanggal 1 bulan kedelapan, bertujuan menyelamati bumi, air, api, angina, matahari, bulan, bintang dan angkasa luar. Sesaji pada wilujengan Kapat, Kapitu dan Kawolu ini sama dengan sesaji pada wilujengan Karo, hanya berbeda pada mantra-mantranya saja.
5. Wilujengan Kasanga, dilaksanakan pada bulan kesembilan, bertujuan menyelamati babakan hawa sanga, yakni sembilan lubang pada tubuh manusia seperti mulut, telinga, hidung, payudara, kelamin, pusar, dubur, mata dan keringat. Upacara ini bertujuan pula untuk ngruwat desa. Sesaji seperti wilujengan Kapat, Kapitu dan Kawolu, tetapi ditambah lagi dengan seekor ayam, diarak beramai-ramai keliling desa, kemudian ayam tersebut disembelih lalu ditanam di halaman rumah kepala desa.
6. Wilujengan Kasada, dilaksanakan pada tanggal purnama bulan keduabelas bertempat di Poten. Acara ini juga disebut Yadnya Kasada sebagaimana yang telah diuraikan pada halaman terdahulu.

This activity ends on 7th panglong and before the seventh panglong, they hold “nyadran” or a visit to a grave by putting “boreh” flower atau “tetamping” (sacrifices). During the Karo Feast Day, whoever visits the Tenggerese must accept the dishes and drunks. If they refuse, they are considered not appreciating the host. Therefor, when visiting several familes, one should not eat too truch in order that he does not get fed-up on his visit to they last family.
2.    Wilujengan Kapat. Held on the 4th of month to commemorate “sedulur papat lima pancer” momong jangkung or momong desa (one who watehad the village) and monco papating dusun (the direction of four villages) the ceremony is held in the village meeting hall.
3.    Wilujengan Kapitu. One the first of the sevent month. They hold “pati geni” fast, no eating and sleeping on the day and night, they just stay in their rooms or in lonely places. Then, it is followed by “mutih fast”, eating only (while) rice and fresh water for a month and ended by “pati geni fast” again. Usually, only the village administrator (Pamong Desa) who do the fast, especially “Dukun, Legen and Wong Sepuh”.
4.    Wilujengan Kawolu. Held on the first of the eight month. Haring the purpose of saving or keeping the earth, water, fire, wind, sun, moon, stars and outer space. The sacrifies for Wilujengan Kapat, Kapitu, and Kawolu are the same as that of Wilujengan Karo, only the incantations which are different.
5.    Wilujengan Kasanga. Held in the 9th month, haring the purpose of keeping or saving “babakan hawa sanga”, that is, nine holes on human body such as mouth, ears, nose, breast, sexes, navel, arws, eyes and sweat. This ceremony is also intended to take care or guard the village. The sacrifice is the same as that of Wilujengan Kapat, Kapitu, and Kawolu, but a chicken is added. All is brought together, walking around the village. The chicken, then, is slaughtered and burried in the yard of the head of the village house.
6.    Wilujengan Kasada. Held on the full moon of the 12th month in “Poten”. This ceremony is also called Yadnya Kasada, explained in the previous pages.

Masyarakat Tengger rajin bekerja sebagai petani. Tidak memandang laki-laki atau wanita, pekerjaan di ladang dikerjakan bersama. Maka tidak heran bila menjumpai wanita Tengger mencangkul di lading atau membelah dan mengangkut kayu baker di bawa pulang sebagai bahan bakar yang utama. Api-api atau gegeni adalah tradisi menerima tamu di dapur sambil minum kopi panas dan makan kentang rebus.

The Tenggerese people work diligently as a farmers, regardless of man or woman, all work is done together. It is not suprising, therefore, to see Tenggerese women hoeing in the field, spliting or bringing firewood home as main fuels “api – api or gegeni” is the tradition of weleming guest in the kitchen and having hot coffee and boiled potatoes there.

Dapur mereka dibuat dari bahan semen dan bata, dengan bahan bakar kayu. Karena hawa yang dingin, biasanya tungku dapur tetap berapi dengan ceret berisi air panas diatasnya. Tungku dapur ini berfungsi juga sebagai tempat perapian. Bila ada tamu akan disilahkan masuk dan duduk di dekat tungku dapur. Sambil berbincang-bincang, tuan rumah akan menyuguhkan kopi panas untuk tamunya. Biasanya kopi bubuk dibuat sendiri dengan aroma yang sedap. Obrolan menjadi semarak dengan suguhan kentang rebus atau keripik kentang. Sambil menghadap tungku, rasa dingin akan berkurang, apalagi bila telah meneguk kopi panas.

Their kitchens are made of cement and bricks, using firewood as the fuct. Because of the cold weather, the oven usually remain fired with a kettle full of hot water on it. This oven also functions as a fire place or furnace. When there are guest, they will be welcome, and sit near the furnace. While chatting, the host will serve hot coffee. Usually, they host makes the powdered coffee herself with a good aroma. The chat becomes more cheered-up with boiled potatoes or cripy chip potatos. As they face the oven, the coldness becomes less and less, especially after drinking the hot coffee.

tengger26.jpg

Penobatan tamu kehormatan masyarakat Tengger

Masyarakat Tengger asli jarang yang mengembara meninggalkan daerahnya karena hasil bumi desanya memberi hasil yang cukup untuk hidup. Mereka menanam kentang, kubis, sayur mayor lainnya dan menanam jagung untuk makanan pokok. Pada umumnya mereka kuat berjalan jauh dengan membawa beban yang cukup berat. Rasa taat kepada adat dan agamanya membuat kehidupan dan budaya mereka masih murni dan kukuh, tak terpengaruh oleh tata kehidupan dan budaya dari luar.

Dari banyak hal menarik menyangkut adat dan budaya Masyarakat Tengger, tentang keteguhan dan kepatuhannya dalam mempertahankan tradisi, tentang “wilujengan” atau upacara-upacaranya yang kompleks, unik dan sarat akan “lambing-lambang” terselubung penuh makna, ada satu hal lagi yang memiliki relevansi dengan kelestarian alam dan lingkungan.

The native Tenggerese seldom wander away, leaving their village, it is because agricultural products in their villages are sufficient. They plant potatoes, cabbage and other vegetables, and also plant or grow corn for their staple food. Generally, they are able to walk along distance, carrying a heavy burden. Their obedience to tradition and region makes their life and culture remain original and firm, never influenced by other ways of info and cultures.

Among the interesting things in tradition and culture of Tenggerese, their firmness and obedience to keep the tradition, “wilujengan” or other complex ceremonier which are unique and full of symbols having unseen meanings, there is one thing which has relevancy with the preservation of environment.

Tempat tinggal Masyarakat Tengger di kawasan Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru Program jangka panjang Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru akan dikembangkan berbagai jenis tumbuhan penyangga sebagai daerah “buffer zone” untuk pelestarian alam serta keindahan dan populasinya, sangat diperlukan kondisi yang terjaga dan kepedulian masyarakat yang tinggal di lingkungannya.

Taman Nasonal Bromo-Tengger-Semeru, bukan hanya menjadi kekayaan Nusantara, namun akan menjadi kebanggaan dunia Internasional. Masyarakat Tengger dengan “kondisi khasnya” sangat ideal untuk mendukung usaha-usaha pelestarian sumber daya alam dan lingkungan, sebagai “buffer zone” bagi kawasan Taman Nasonal Bromo-Tengger-Semeru.

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: