Belajar Kreatif, Asyik dan Bermakna*

Desember 16, 2009 pukul 5:14 am | Ditulis dalam Kuliah | Tinggalkan komentar
Tag: ,

Belajar Kreatif, Asyik dan Bermakna*

Makalah ini tidak menguraikan bagaimana metoda belajar kreatif yang asyik dan bermakna secara detail. Di sini diuraikan prinsip fungsi otak dalam abad neurosains yang menjadi sumber ditemukannya metoda cara baca cepat, quantum learning, quantum teaching atau revolution learning. Selanjutnya dapat disaksikan pada penjelasan dengan LCD/OHP.

BELAJAR KREATIF, ASYIK dan BERMAKNA*

Yadi Purwanto**

Pendahuluan

Makalah ini tidak menguraikan bagaimana metoda belajar kreatif yang asyik dan bermakna secara detail. Di sini diuraikan prinsip fungsi otak dalam abad neurosains yang menjadi sumber ditemukannya metoda cara baca cepat, quantum learning, quantum teaching atau revolution learning. Selanjutnya dapat disaksikan pada penjelasan dengan LCD/OHP.

Alasan Perlunya Metoda Baru

Para ahli psikologi belajar berpendapat bahwa:

a) Manusia sekarang penuh dengan persoalan kompleksitas, sehingga tantangannya berkembang cepat serta semakin rumit teapi pada saat yang bersamaan kebutuhan untuk hidup bahagia lebih sulit diperoleh, bahkan oleh anak-anak sekalipun. Oleh karena itu, jaman ini diperlukan manusia dengan persiapan lebih kompleks tetapi perlu didasari masa kecil yang bahagia, sebelum mereka terjebak oleh penderitaan jaman.

b) Ditemukannya pengetahuan tentang peta otak manusia lebih intensif sebagaimana dinyatakan oleh ilmuwan Amerika bahwa abad ini adalah abad neurosciens, bahkan penelitian otak dua dasawarsa terakhir telah menjungkirbalikkan berbagai teori tentang otak. Sejak Daniel Goleman (1996) meluncurkan tema kecerdasan emosional, kesadaran orang semakin besar akan pentingnya asah emosi, belum lagi reda semburan ide tentang kecerdasan spiritual oleh Danar Zohar dan Ian Marshal (2002) semakin menjadikan manusia modern merasa perlu untuk mengenali struktur biologis otaknya. Apalagi setelah Amerika menyatakan bahwa dekade 1990-2000 adalah termasuk brain era, maka berbagai penelitian tentang strutjtur dan fungsi otak hampir menyamai penelitian tentang kosmologi. Misteri kosmologi hingga kini belum juga terpecahkan, apalagi setelah pesawat Columbia, Chalanger meledak berturut-turut. Rupanya alam kosmologi manusia tengah mengalami penelusuran, dan jejak-jejaknya ditelusuri melalui pemetaan otak yang semakin computerized dengan paduan neurosains modern.

c)      Salah satu tema terpenting dari neurosains akhir-akhir ini adalah adanya noktah yang menjadi lahan subur “rasa ber-Tuhan” yang diberi nama “god spot”. “Kehadiran” Tuhan di otak merupakan suatu hal yang menarik. Bukan saja karena otak adalah CPU (Central Processing Unit)-nya manusia, melainkan juga karena isi dan fungsi otak merupakan pembentuk sejarah hidup pemiliknya maupun sejarah kehidupan itu sediri. Banyak sekali kemampuan yang dinisbahkan kepada otak melebihi yang diberikan pada jantung atau ginjal.

Era Fungsi Neurosains

Ada tiga fungsi yang diperankan oleh otak dan membuatnya berbeda dengan yang lain: (1) fungsi emosi, (2) fungsi rasional – eksploratif atau fungsi kognisi, dan (3) fungsi refleksi.

Fungsi emosi

Fungsi yang pertama ditunjukkan oleh beragam penemuan tetang emotional intelligence (EQ), termasuk penemuan faktor – faktor biologis yang mempengaruhi terjadinya penyakit jiwa; antara lain penemuan psikoneuroimunologi dan pentingnya “keyakinan” dalam menciptakan kodisi biologis tubuh yang baik. Ilmu pengetahuan telah membuktikan bahwa “keyakinan” dapat menjadi salah satu terapi penting dalam meciptakan kodisi tubuh yang seimbang. “Keyakinan untuk sembuh adalah metode penyembuhan itu sendiri”. Keyakinan berhubungan secara timbal balik dengan metabolisme tubuh. Dengan kata lain, optimisme dan positive thinking memberi pengaruh menguntungkan dalam kodisi biologis manusia. Sistem limbik dan amigdala yang terletak di daerah tengah otak merupakan dua komponen yang berperan penting.

Hal yang penting dari fungsi emosional otak adalah munculnya rasa bahagia, senang, gembira dalam setting sosial dan lingkungan. Tanpa kecerdasan yang satu ini manusia tidak akan pernah menjadi manusia sosial yang hidup dengan snejata emosionalnya.

Berdasarkan penelitian para neurosains, fungsi emosional lebih dahulu berkembang daripada fungsi rasional. Oleh karenanya perkembangannya menjadi penting.

Fungsi kognisi

Fungsi kedua ditunjukkan oleh semaraknya penemuan dalam bidang keilmuan yang membuahkan teknologi, dari yang sederhana sampai yang tercanggih. Apa yang disebut Thomas Kuhn (1984) sebagai revolusi paradigma, sesungguhnya adalah aktualisasi dari fungsi eksploratif tersebut. Fungsi rasional – eksploratif sari otak digambarkan secara jelas dan tegas dalam makna harfiah kata berfikir. Kata fikir (dalam bahasa indonesia) itu diambil dari kata fikr yang diubah dari bentuk awal fark. Kata fark itu sediri bermakna, antara lain: (1) mengorek sehingga apa yang dikorek itu muncul, (2) menumbuk sampai hancur, (3) menyikat (pakaian) sehingga kotorannya hilang, dan (4) menggosok hingga bersih. Dari keempat makna yang ditunjukkan oleh kata fark, tampak bahwa berpikir itu menunjukkanpada usaha tak kenal lelah dan keras untuk “menyingkap “, “membuka “ atau “mengeksplorasi” setiap objek yang ada sehingga objek itu dapat dipahami dan ditangkap secara jelas. Dengan demikian, usaha yang dilakukan oleh Democritus dengn teori atom, Nicolaus Copernicus dengan teori heliosentris, Albert Einstein dengan teori relativitas, Rutherford dengan teori proton, Abdussalam dengan teori gabungan gaya elektromagnetik – gaya lemah, Edward Jenner dengan teori vaksinasi, Robert Koch dengan teori linguistik, Sigmund Freud dengan teori psikoanalisis, adalah kegiatan berpikir untuk dapat menyingkap segala sesuatu tentang objek yang ada di alam semesta. Kulit otak merupakan komponen utama untuk fungsi ini.

Fungsi spiritual

Fungsi ketiga mencangkup hal – hal yang bersifat supranatural dan religius, yang menurut beberapa penelitian  “bersumber” dari dalam otak manusia. Kerangka orientasi (seperti agama), sebagaimana ditegaskan oleh Erich Fromm (1994) yang “bersumber” dalam kulit otak (korteks serebri) manusia adalah contoh fungsi refleksi.

Fungsi ini hendak menegaskan bahwa “keberadaan Tuhan“ adalah sesuatu yang sesungguhnya tidak perlu dipermasalahkan. “Keberadaan Tuhan” sedikitnya, ditampakkan dalam kesempurnaan jalinan dan jaringan saraf manusia. Pernyataan ini tidak berarti bahwa “Tuhan” itu direduksi sampai bentuk seluler persarafan manusia atau tingkat terrendah dalam wujud materi sebagaimana diyakini oleh para materialis. Makna “kehadiran Tuhan“ berhubungan erat dengan adanya kesempurnaan tubuh fisik manusia. Kesempurnaan tubuh fisik manusia, antara lain, ditunjukkan oleh adanya setruktur tubuh yang efektif dan fungsional dalam menjamin fungsi – fungsi kehidupan yang penting. Posisi tegak, sistem lokomotorik, dan panca indra adalah tiga contoh kesempurnaan itu.

Zohar dan Marshall memberikan gambaran bagaimana tanda-tanda orang yang memiliki SQ tinggi, yaitu :

1.   Kemampuan bersikap fleksibel (adaptif secara spontan dan aktif)

2.   Tingkat kesadaran yang tinggi

3.   Kemampuan menghadapi dan memanfaatkan penderitaan

4.   Kemampuan untuk menghadapi dan melampaui rasa takut

5.   Kualitas hidup yang diilhami oleh visi dan nilai-nilai

6.   Keengganan untuk menyebabkan kerugian yang tidak perlu

7.   Kecenderungan untuk melihat keterkaitan antara berbagai hal (berpandangan holistik)

8.   Kecenderungan nyata untuk bertanya: “mengapa?” atau “bagaimana jika?” untuk mencari jawaban yang mendasar

9.   Pemimpin yang penuh pengabdian dan bertanggungjawab

Ada dua hal yang diangap penting oleh Danar Zohar dan Marshal, yakni  aspek nilai dan makna sebagai unsur penting dari kecerdasan spiritual, sebagai misal yang dapat dicatat:

·  “SQ adalah kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan masalah makna dan nilai”.

·  ‘SQ adalah kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup manusia dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya

·  “Kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain

·  “Kecerdasan ini tidak hanya untuk mengetahui nilai-nilai yang ada, tetapi juga untuk secara kreatif menemukan nilai-nilai baru.

Bagaimana Belajar?

Pada dasarnya anak-anak dapat belajar dengan metoda apa saja. Metoda akan efektif selama ia sesuai dengan fungsi dasar otak: emosional, rasional dan spiritual. Ketiga aspek ini perlu dirangsang sejak dini dengan prinsip seimbang, mudah dan  mungkin.  Setiap fungsi otak memiliki karakteristik tersendiri seperti otak emosional perlu belajar dengan metoda yang membahagiakan karena ia otak primitif yang bersifat hedonis. Otak rasional bersifat kreatif, imajinatif dan  logis. Otak spiritual perlu dirangsang dengan hal-hal yang bersifat memberi makna dan nilai.

Bagaimanakah merancang metoda yang tepat?

Semua metode belum tentu tepat untuk semua anak, dan tidak semua guru dapat menjalankan metoda yang sama dengan kualitas yang sama. Oleh karena itu metoda merupakan hasil dari kematangan belajar sang guru terhadap dirinya sendiri. Metoda yang tepat adalah mencerdaskan diri pendidik, sehingga selalu terjadi proses kreativitas guru yang dapat menstimulasi peserta didik. Proses yang tepat adalah belajar dari prinsip-prinsip pembelajaran yang berbasis neurosains mutakhir dengan terus meyakini ada sisi gelap “penciptaan” yang dimensinya  adalah kekuatan do’a dan raihan hidayah.

Lebih jauh karena keterbatasan ruang, dapat dilihat pada tayangan OHP/LCD.

Kesimpulan

Berdasarkan uraian di atas dapat disarikan dalam tabel berikut:

Fungsi Emosional Rasional Spiritual
Ciri umum Cerdas secara emosi, mampu mandiri, komunikasi, memimpin, adaptasi, humoris, dan membangun relasi Cerdas secara intelektual: pandai dalam merumuskan, menganalisa, memutuskan dengan pendekatan kuantitatif dan logis Cerdas secara nurani: mampu memberi makna, transendensi diri, mengambil hikmah, keshalehan, bermoral dan mengatasi kesulitan dengan para logis dan metafisik.

Daftar Pustaka

Dryden Gordon, Vos Jeannette, 1999, The Learning Revolution: To Change the way the world Learns. New Zealand: The Learning web

Goleman, Daniel, 1996, Emotional Intelligence, Jakarta:Gramedia.

Pasiak, Taufik,  2002, Revolusi  IQ, EQ, SQ antara Neurosains dan Al Quran, Bandung: Mizan

Tasmara, Toto, (2001)  “Kecerdasan Ruhaniyah” (Transcendental Intelligence), Gema Insani Press, Jakarta.

Zohar, Danah dan Ian Marshall, 2000, SQ: Spiritual Quotient, The Ultimate Intelligence, London. (Edisi Indonesia diterjemahakan oleh Rahmani Astuti dkk, Mizan, Bandung)

amaduq01.files.wordpress.com/2008/04/belajarkreatif2.doc

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: