Jangan Biarkan DBD Mengancam!

Desember 16, 2009 pukul 4:23 am | Ditulis dalam Berita Kesehatan | Tinggalkan komentar
Tag:

Jangan Biarkan DBD Mengancam!

JIKA ada anggota keluarga yang mengalami demam tinggi selama 2 hingga 7 hari, muncul bintik-bintik merah di badan, dan serasa mual, muntah, serta menurunnya nafsu makan, Anda harus hati-hati. Bisa jadi, Demam Berdarah Dengue (DBD) sedang menyerang keluarga Anda. Ini bukan demam biasa.

DBD dalam istilah kedokteran, Dengue Hemorrhagik Fever (DHF) adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus Dengue tipe 1-4. Penyakit ini ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti betina (dominannya) dan beberapa spesies Aedes lainnya.

Nyamuk yang berasal dari Brasil dan Ethiopia ini sering menggigit manusia pada waktu pagi dan siang. Tak heran, jika seseorang yang menderita penyakit Demam Berdarah, biasanya dikaitkan dengan gigitan nyamuk. Orang yang berisiko terkena adalah anak-anak yang berusia di bawah 15 tahun, dan sebagian besar tinggal di lingkungan lembap, serta daerah pinggiran kumuh.

Parahnya, kadang masyarakat tidak mengerti, jika sakit demam dan panas yang tinggi sering kali dikira hanyalah sebuah penyakit yang biasa. Gejala DBD memang seperti demam biasa. Jika memang terkenda DBD, Anda harus waspada, jika terlambat penanganannya, penyakit ini bisa menyebabkan kematian.

Waspadai, DBD bukan demam biasa

Di beberapa kasus, penyakit DBD sering kali salah didiagnosis dengan penyakit lain seperti flu atau tipus. Hal ini disebabkan karena infeksi virus dengue yang menyebabkan DBD ini bisa bersifat asimtomatik atau tidak jelas gejalanya. Perlu diketahui juga, bahwa virus tersebut dapat masuk bersamaan dengan infeksi penyakit lain seperti flu atau tipus.

Virus ini ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang sebelumnya sudah menggigit orang yang terinfeksi dengue. Populasi nyamuk ini akan meningkat pesat saat musim hujan. Nyamuk ini juga dapat hidup dan berkembang biak pada bak penampungan air sepanjang tahun. Satu gigitan nyamuk yang telah terinfeksi mampu untuk menimbulkan penyakit dengue pada orang yang sehat.

Di Indonesia, penyakit ini pertama kali ditemukan di Surabaya tahun 1968. Namun, konfirmasi virologis baru didapatkan tahun 1972. Dan pada tahun 1980-an, penyakit ini sudah menyebar ke berbagai daerah di seluruh provinsi di Indonesia.

Demam dengue banyak terjangkit di daerah tropis dan subtropis, seperti di Indonesia. Asia menempati urutan pertama dalam jumlah penderita demam dengue tiap tahun. Ditambah lagi jika sanitasi lingkungan tempat tinggal tidak bagus. WHO sendiri memperkirakan lebih dari 40 persen penduduk dunia hidup di daerah endemis demam dengue.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan meningkatnya jumlah kasus serta cepatnya penyebaran wilayah yang terjangkit DBD di Indonesia, salah satunya adalah kurangnya perilaku masyarakat terhadap pembersihan sarang nyamuk. Selain itu, terdapatnya vektor nyamuk hampir di seluruh pelosok Tanah Air.

Upaya pemerintah menggerakkan warga

Pemerintah juga tak berhenti untuk mengatasi meningkatnya kasus DBD, beberapa waktu lalu. Awalnya, digunakanlah metode pengasapan untuk memberantas nyamuk dewasa. Karena dinilai belum cukup untuk mengurangi kasus DBD, strategi ditambah dengan menggunakan larvasida yang ditaburkan ke tempat penampungan air yang sulit dibersihkan.

Namun, dua metode tadi belum mendapatkan hasil yang memuaskan. Pemerintah pun membuat berbagai poster dan memasang iklan di TV sebagai ajakan masyarakat untuk rajin membersihkan lingkungan yang tergenang air. Berbagai kampanye pemberantasan sarang nyamuk digalakkan.

Upaya yang digunakan untuk memberantas DBD memang ditujukan pada Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN). Oleh karena itu, pentingnya kesadaran masyarakat membersihkan lingkungan adalah hal yang utama. Itulah yang disebut pengendalian pertama dengan metode lingkungan.

Caranya, misalnya menguras bak mandi/penampungan air sekurang-kurangnya sekali seminggu, menutup dengan rapat tempat penampungan air dan mengubur kaleng-kaleng bekas, aki bekas dan ban bekas di sekitar rumah. Pengendalian yang kedua, bisa dilakukan dengan cara biologis. Pengendalian ini bisa dilakukan dengan menggunakan ikan pemakan jentik, misalnya ikan adu/cupang.

Ketiga, bisa dilakukan dengan menggunakan cara kimiawi. Seperti yang telah dipaparkan dimuka, pengasapan/fogging merupakan cara untuk mengurangi kemungkinan penularan sampai batas waktu tertentu. Selain itu, bubuk abate (temephos) juga bisa diberikan di tempat-tempat penampungan air seperti gentong, air, vas, bunga, kolam dan lain-lain.

Penyembuhan tergantung kecepatan dan ketepatan

Bagaimana dengan upaya meminum jus jambu? Seorang dokter mengatakan bahwa anjuran tersebut sama sekali tidak bisa dibenarkan dan justru bisa menyesatkan masyarakat. Hingga saat ini, belum ada hasil penelitian yang membenarkan bahwa buah jambu biji sebagai obat penyembuh demam berdarah. Yang diserang adalah sel darah merah dalam tubuh, penyembuhannya pun hanya menambah sel darah merah yang berkurang di samping perawatan lainnya.

Tidak ada pengobatan spesifik untuk penyakit ini termasuk penggunaan antibiotika. Umumnya pengobatan demam dengue hanya ditujukan untuk mengatasi gejala yang terjadi (simptomatis). Dua hal yang sangat penting pada pasien demam dengue adalah istirahat dan asupan cairan yang cukup.

Sampai sekarang memang belum ada obat untuk mematikan “virus dengue? yang menyebabkan penyakit demam berdarah tersebut. Penyembuhannyapun tergantung pada kecepatan penderita dibawa ke rumah sakit serta ketepatan pihak rumah sakit menolong pasien. Jika terlambat dibawa ke rumah sakit, maka pihak rumah sakit tidak bisa berbuat banyak.

Penularan demam dengue tidak bisa langsung dari manusia ke manusia tetapi harus melalui perantara nyamuk. Masyarakat tidak perlu khawatir apabila terjadi kontak langsung dengan penderita demam dengue. Perlu juga diingatkan agar setiap anggota keluarga yang mengalami gejala panas tinggi yang tidak turun-turun, untuk segera diperiksakan ke rumah sakit atau puskesmas untuk mengetahui secara pasti penyakit tersebut.

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: